PEKANBARU, KATABANGSANEWS.COM – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui Provinsi Riau. Memasuki awal Juni 2026, sejumlah titik panas (hotspot) mulai terpantau meningkat di beberapa wilayah rawan gambut seperti Rokan Hilir, Pelalawan, Bengkalis hingga Dumai.

Berdasarkan data BMKG dan sejumlah lembaga pemantau lingkungan, peningkatan hotspot mulai terlihat sejak akhir Mei 2026 seiring menurunnya curah hujan dan meningkatnya suhu udara di wilayah Sumatera. Bahkan WALHI Riau mencatat sepanjang Januari hingga Maret 2026, Riau menjadi provinsi dengan jumlah hotspot tertinggi di Sumatera.

Situasi ini memunculkan kekhawatiran masyarakat terhadap ancaman kabut asap yang selama ini menjadi “bencana tahunan” di Bumi Lancang Kuning.

Masyarakat diingatkan untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, termasuk membakar sampah dan semak di area perkebunan maupun lahan kosong. Kondisi gambut yang mulai mengering membuat api sangat mudah menyebar dan sulit dipadamkan.

Pemerintah daerah juga diminta tidak lengah menghadapi potensi karhutla tahun ini. Pengawasan di daerah rawan harus diperketat sebelum kebakaran besar terjadi.

Selain itu, perusahaan perkebunan dan pemegang konsesi hutan diminta tidak hanya sibuk membuat laporan administratif semata, tetapi benar-benar menyiapkan personel, embung air, kanal blocking, alat pemadam, hingga patroli rutin di lapangan.

Publik menilai penanganan karhutla tidak boleh lagi sekadar menjadi agenda seremonial tahunan.

“Kalau setiap tahun hotspot terus muncul di lokasi yang sama, berarti ada persoalan serius dalam pengawasan dan penegakan hukum. Jangan sampai rakyat kembali menjadi korban asap sementara pelaku pembakar lahan sulit tersentuh,” ujar salah seorang aktivis lingkungan di Pekanbaru.

Data WALHI Riau bahkan menyoroti banyaknya hotspot yang muncul di area gambut dan konsesi tertentu. Kondisi ini disebut sebagai alarm keras lemahnya pengawasan terhadap kawasan rawan terbakar.

Meski demikian, di tengah meningkatnya ancaman karhutla, apresiasi besar patut diberikan kepada BPBD Riau, TNI, Polri, Manggala Agni, Dinas Kehutanan, relawan Masyarakat Peduli Api (MPA), serta seluruh personel Satgas Karhutla yang terus siaga di lapangan.

Bagi Satgas Karhutla, tidak ada istilah tanggal merah maupun hari libur. Ketika masyarakat menikmati akhir pekan dan hari libur nasional, para petugas tetap berjibaku melakukan patroli, pemantauan hotspot, pendinginan lahan, hingga pemadaman api di daerah-daerah rawan terbakar.

Mereka bekerja siang dan malam demi memastikan Riau tidak kembali diselimuti kabut asap seperti tahun-tahun sebelumnya.

Kepala BPBD dan jajaran Satgas Karhutla sebelumnya juga terus mengingatkan masyarakat agar tidak bermain-main dengan api, terutama di kawasan gambut yang sangat mudah terbakar saat musim panas.

Di lapangan, personel gabungan bahkan harus menghadapi medan berat, asap pekat, cuaca ekstrem, hingga keterbatasan akses air ketika memadamkan kebakaran.

Kondisi tersebut membuat masyarakat berharap seluruh pihak memiliki kesadaran yang sama dalam menjaga lingkungan dan mencegah karhutla sejak dini.

Pemerintah pusat dan daerah juga diminta bertindak lebih tegas terhadap pelaku pembakaran lahan, baik individu maupun korporasi. Penegakan hukum dinilai menjadi kunci agar kebakaran tidak terus berulang setiap tahun.

“Karhutla bukan hanya soal api dan asap. Ini soal kesehatan rakyat, ekonomi daerah, pendidikan anak-anak, bahkan citra Indonesia di mata dunia. Semua pihak harus serius,” kata seorang warga Pekanbaru.

Kini masyarakat berharap Riau tidak kembali mengulang tragedi kabut asap yang pernah melumpuhkan aktivitas sekolah, penerbangan, kesehatan masyarakat hingga ekonomi daerah.

Pencegahan dini, patroli rutin, pengawasan ketat, dan kesadaran bersama dinilai menjadi langkah paling penting agar bencana ekologis tersebut tidak kembali terjadi di tahun 2026 (Red/KATABANGSANEWS.COM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *