PEKANBARU –(katabangsanews.com)- 2/6/2026 Persoalan lingkungan hidup kembali menjadi sorotan di Provinsi Riau. Memasuki musim kemarau 2026, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pencemaran udara, hingga dugaan pelanggaran lingkungan oleh sejumlah korporasi perkebunan sawit kembali mencuat dan menjadi perhatian publik. Berdasarkan hasil pemantauan berbagai lembaga lingkungan dan aparat penegak hukum, ribuan titik panas (hotspot) terdeteksi di sejumlah wilayah gambut di Riau. Kondisi ini dinilai berpotensi memicu bencana kabut asap yang selama ini menjadi ancaman tahunan bagi masyarakat. Selain ancaman karhutla, kasus dugaan pencemaran lingkungan oleh perusahaan perkebunan sawit juga tengah menjadi perhatian serius. Aparat penegak hukum dan instansi lingkungan hidup saat ini terus melakukan pengawasan ketat terhadap aktivitas perusahaan yang diduga melanggar aturan pengelolaan lingkungan dan tata kelola kawasan hutan. Pemerintah daerah bersama Satgas Karhutla juga terus melakukan patroli terpadu, pemadaman dini, hingga sosialisasi kepada masyarakat guna mencegah kebakaran meluas. Namun demikian, berbagai pihak menilai penanganan karhutla di Riau tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah membesar, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor sejak dini. Ketua Yayasan Kiandra Setia Bangsa, M. Widiarta, ST., menegaskan bahwa persoalan karhutla sebenarnya dapat diantisipasi apabila seluruh pihak mampu membangun sinergi yang kuat dan berkelanjutan. Menurutnya, kebakaran hutan dan lahan yang terus berulang setiap tahun seolah menjadi rutinitas tahunan yang tidak pernah selesai. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak hanya menyalahkan satu pihak setiap kali bencana kabut asap terjadi. “Sebenarnya hal ini bisa diantisipasi oleh semua pihak, selama lembaga dan instansi terkait bersinergi. Hal ini terus terulang setiap tahun seperti rutinitas dan prosesi wajib bahwa ketika masuk musim kemarau dipastikan karhutla ini terulang. Jangan hanya menyalahkan satu pihak. Setiap terjadi karhutla ramai-ramai menyalahkan pemerintah, menuntut kerja cepat Satgas Karhutla, tetapi yang paling masif komentar justru hanya membuat statemen dari belakang meja,” ujarnya. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih aktif memberikan edukasi terkait bahaya dan dampak kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan, baik dari sisi kesehatan, ekonomi, maupun kerusakan lingkungan jangka panjang. “Coba kita sama-sama memberikan edukasi terhadap masyarakat tentang bahaya dan kerugian dari kebakaran hutan dan lahan ini. Mari kita bersinergi bersama-sama dan jangan menyalahkan satu pihak, kecuali kebakaran lahan yang berada di kawasan konsesi perusahaan yang memang menjadi tanggung jawab perusahaan dan boleh kita intervensi,” tegasnya. Lebih lanjut, M. Widiarta menilai bahwa Satgas Karhutla selama ini telah bekerja keras tanpa mengenal waktu dalam melakukan pemadaman maupun pencegahan kebakaran di lapangan. Namun ironisnya, menurut dia, masih banyak pihak yang justru lebih mudah menghujat dibanding memberikan solusi nyata. “Satgas Karhutla sudah bekerja keras tanpa lelah, masih dihujat dan masih dituntut. Kenapa kita saat ini seperti tidak punya empati terhadap Satgas Karhutla? Dukung mereka dan berikan masukan solutif, bukan hanya mengkritik dan menuntut tetapi tidak punya solusi,” katanya. Ia menambahkan bahwa saat ini banyak saluran yang dapat digunakan masyarakat untuk menyampaikan pandangan, saran, maupun masukan yang konstruktif dalam upaya mengurangi karhutla di Bumi Lancang Kuning. “Mari bersama-sama kita bekerja sama, saling bahu membahu agar hal ini tidak terus terulang,” tutupnya. Masyarakat Riau sendiri diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan aktivitas pembakaran hutan maupun pencemaran lingkungan di wilayah masing-masing. Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, perusahaan, dan relawan dinilai menjadi kunci utama dalam mencegah bencana kabut asap kembali melanda Riau.(red/kiandraupdate.com)-wdi Post navigation Tanggal Merah Bagi Warga, Tapi Tidak untuk Satgas Karhutla Riau: Hotspot Mulai Bermunculan, Riau Diminta Jangan Kembali Kecolongan Karhutla. RIAU DARURAT ASAM GAMBUT! 11 Daerah Serentak Siaga, Nafas Warga Mulai Terancam Bahaya?